Manik Angkeran, Asal Mula Selat Bali

Kuliner Terang Bulan Premium di Bali
May 17, 2016
3 Restoran Keluarga untuk Berbuka Puasa di Bali
June 20, 2016

Konon jaman dahulu Pulau Bali dan Pulau Jawa menjadi satu lho. Namun karena adanya kejadian luar biasa yang melibatkan kesaktian seseorang membuat kedua pulau tersebut terpisah menjadi selat Bali. Penasaran ceritanya seperti apa?

Manik Angkeran adalah putra seorang Brahmana, Empu Sidhimantra yang cerdas dan tampan. Ia tinggal di Kerajaan Doha – Bali, sayangnya ia mudah dipengaruhi oleh teman-temannya. Manik pun menjadi seorang yang hidup dari berjudi dan menyabung ayam. Ia berpikir tanpa bekerja keras untuk bisa kaya, cukup bermodalkan seekor ayam saja pasti akan menghasilkan banyak uang untuknya.

Keesokan harinya, Manik Angkeran pun mulai menyabung ayam dan ternyata benar, ayamnya selalu menang. Merasa puas, Manik pun mengulanginya kembali keesokan harinya. Namun kenyataannya tidak semudah itu hari kedua dan seterusnya ayamnya mulai sering kalah. Uang Manik pun ludes sampai harus berutang untuk membayar kekalahannya. Manik pun tidak jera ia terus berjudi dan menyabung ayam.

Ia mencuri harta ayahnya untuk membayar utang-utangnya. Mengetahui hal tersebut, Sidhimantra menasehati Manik bahwa berjudi tidak bisa membuatmu kaya justru akan membuatmu miskin. Ia tak peduli nasehat ayahnya. Lambat laun, harta ayahnya pun habis tak tersisa untuk membayar utang.

Ayahnya pun tak tega pada anak semata wayangnya, karena jika tidak bisa membayar anaknya akan dibunuh. Sidhimantra mencari bantuan dan memohon petunjuk dewa melalui genta ajaib. Ia menemui Naga Besukih di Gunung Agung dan meminta sedikit hartanya untuk membayar utang-utang anaknya. Naga Besukih menyanggupi permintaannya, ia masuk ke dalam gua dan keluar membawa sejumlah emas dan batu permata.

Setelahnya harta tersebut diserahkan kepada anaknya. “Pergilah dan lunasi semua utangmu. Kini kau bisa memulai hidup baru.” Nyatanya Manik Angkeran tidak jera, ia tetap menggunakan hartanya untuk berjudi kembali sampai semua harta dari Naga Besukih terkuras habis dan kali ini jumlah utangnya lebih besar dari sebelumnya.

Lagi-lagi ia meminta tolong ayahnya, tetapi Sidhimantra sudah tidak bisa membantu anaknya. Manik Angkeran pun mencuri genta ajaib milik ayahnya. Manik pun mendaki Gunung Agung dan membunyikan genta ajaib itu dan menemui Naga Besukih. Naga Besukih pun memberi sedikit harta untuk terakhir kalinya dan tidak boleh datang lagi untuk meminta harta.

Saat mengambil hartanya di dalam gua, tanpa sadar Manik mengikutinya dan melihat gua tersebut menyimpan setumpuk emas dan permata. Melihat semua itu, timbullah niat jahat Manik dengan membunuh Naga Besukih, menghunus kerisnya dan memotong ekor Naga Besukih. Naga Besukih terluka, ia murka dan menyemburkan api dari mulutnya. Manik Angkeran pun terbakar api yang keluar dari mulut Naga Besukih. Tubuhnya menjadi abu.

Sadar genta ajaibnya hilang, Sidhimantra menyusul ke Gunung Agung. Ia mengetahui anaknya telah menjadi abu, ia pun meminta Naga Besukih menghidupkan putranya lagi. Naga Besukih pun menyanggupi permintaan Sidhimantra. Namun, Manik tidak bisa pulang bersama ayahnya dan harus menjadi murid Naga Besukih.

Sidhimantra dan Naga Besukih pun mengampuni Manik Angkeran dengan syarat ia harus berpisah dengan ayahnya. Kemudian Sidhimantra mengeluarkan tongkat dan membuat garis yang memisahkan dirinya dengan anaknya. Tiba-tiba, dari garis itu keluar air yang makin lama makin deras. Gunung Agung pun terpisah dari sekitarnya. Genangan air itulah yang kemudian dikenal dengan Selat Bali yang memisahkan Pulau Bali dan Pulau Jawa.

Pesan moral dari cerita rakyat ini: Patuhi nasehat orang tuamu karena perkataan mereka pastilah yang terbaik untuk kamu.

Steffi Novita
Steffi Novita
She has passion for traveling the world and she definitely loves the ocean