Di Balik Lensa bersama Vifick Bolang

pasar seni oleh oleh bali
Pasar Tradisional Tempat Membeli Oleh-Oleh di Bali
January 10, 2018
samaya ubud
Rekomendasi Tempat Dinner Romantis untuk Merayakan Valentine’s Day
January 22, 2018
Spread the love
  • 29
    Shares

Syafiudin Vifick adalah seorang visual storyteller. Dengan  menggunakan  medium  fotografi, dia mengerjakan project  berupa foto essay dan travel story. Tertarik akan isu –isu kemanusiaan (humanity), social, budaya, antropologi dan isu – isu kontemporer.

Sehari – hari Vifick mengerjakan fotografi komersil dan menjadi contributor di beberapa media. Karyanya  dimuat  di  beberapa  media, seperti Sriwijaya Air Magz, National Geographic Traveller Indonesia, senidiharilibur.com dan  berbagai media lainnya.

Di Bali, dia membentuk komunitas fotografi ‘Semut Ireng’ yang mengkhususkan pada  fotografi lubang jarum. Setelah itu, saat ini dia mendirikan  program  fotografi  #SayaBercerita,  yakni  sebuah inisiatif dan movement untuk bercerita melalui medium fotografi. Program tersebut berupa  kelas  fotografi,  pameran  fotografi  dan  pembuatan  buku  fotografi.  Selain  itu,  Vifick  aktif  mengikuti  pameran fotografi dan seni rupa, serta mengajar fotografi di berbagai daerah di Indonesia.

Berikut petikan wawancaranya :

(AV1 : Avilla Bali)

(V : Vivick)

AV1 : Apa bedanya Fotografer dan visual storyteller ?

V : “Menurut saya, fotografi itu lebih kepada hal teknis ya. Sedangkan visual storyteller lebih kepada ingin menyampaikan gagasan atau ide – ide tentang sekitarnya. Menceritakan sesuatu yang tidak disadari oleh orang – orang di sekitar objek.

AV1 : Kenapa tertarik dengan visual storyteller ?

V : Karena buat saya, apa yang membuat foto itu menjadi sesuatu yang mempunyai value adalah melalui cerita atau content-nya. Ketika fotografi bisa dijadikan alat media komunikasi visual maka itu yang akan membuat fotografi melampaui batas teknis.

AV1 : Pengalaman yang paling berkesan selama memotret ?

V : Waktu saya mengikuti Ngaben yang diadakan oleh Cok Savitri. Beliau mengajak saya untuk memotret selama prosesi berlangsung. Disitu saya melihat sisi lain dari Bali yang selama ini tidak banyak orang tau, yaitu toleransi umat beragama. Jadi, rombongan Ngaben diantar dengan iring – iringan tarian Rudat,tarian yang sangat kental dengan nuansa Islami. Foto dan tulisan saya tentang ini, dimuat di Natgeo tahun lalu”

Red : Berikut link tulisan yang dimaksud : http://lensa.fotokita.net/2016/10/syafiudin-vivick-pelebon-puri-sidemen/

AV1 : Pernah merasa jenuh ? Kalo iya, apa yang biasa dilakukan ?

V : “Pernah banget. Cara atasin-nya, saya traveling ke luar Bali. Untuk eksplorasi ide. Rasanya memang beda banget. Sesuatu yang sebelumnya saya anggap biasa saja, ketika saya kembali lagi menjadi sesuatu yang ‘istimewa’. Misalkan, Canang. Tiap hari kita melihat itu biasa saja karena setiap hari kita melihatnya. Tapi, filosofi dan nilai –nilai yang terkandung dibaliknya, itu yang membuat tidk biasa. Cerita di balik Canang-nya. Hal – hal yang seperti itu”.

AV1 : Next project ?

V : “ Tahun ini,Rencana merilis buku unspoken karya peserta angkatan 1 Kelas Fotografi #SayaBercerita. Dan kemudian membuka kelas untuk angkatan kedua pada awal April nanti”.

 

image source : http://lensa.fotokita.net/2016/10/syafiudin-vivick-pelebon-puri-sidemen/

Ripta Paranoan
Ripta Paranoan
Employee of the universe